0Shares

Puluhan anak usia SMP itu tampak berebutan mengangkat papan nama. Meminta waktu kepada moderator untuk berbicara. Menjawab, mengajukan pendapat, ataupun menyanggah jawaban peserta lain. Tumpukan kitab rujukan menghiasi meja masing-masing. Satu persatu pembacaan dan pemahaman diuji dan dikritisi. Jika terdengar bacaan i’rab yang salah, sontak peserta yang laing menyahut meluruskannya.

Itulah gambaran singkat bahtsul masail tingkat tsanawiyah Madrasah Darus-Sunnah Ciputat. Rabu, 18 September 2019, program dwimingguan itu dihelat di perpustakan Ma’had Darus-Sunnah. Diikuti oleh perwakilan santri kelas II dan III, dan dimentori oleh santri tingkat Aliyah. Topik yang dikaji fokus pada permasalah ilmu Nahwu, Sharaf, dan I’lal.

Malam itu, soal yang diajukan adalah dua kata dalam iqamah. Tepatnya pada lafadl “qad qamat al-shalah”. Sebagaimana diketahui, qama adalah kata kerja berzaman lampau (fiil madli). Ditambah lagi kemasukan huruf “tahqiq”, yakni huruf qad. Hanya saja, pada kenyataannya, shalat baru akan ditunaikan. Bukan telah ditunaikan.
Lantas bagaimana kita mengulik akar permasalahannya?

Dua jam dicurahkan. Beragam kitab ditelaah. Di antaranya ialah Jami’ al-Durus, al-Nahwu al-Muyassar, Qawaid Lughah al-Arabiyah, hingga Mughni al-Labib. Dalam kata sambutannya, Ust. Badruttamam, Lc., S.S.I menegaskan bahwa santri harus berani mengarungi ragam literatur dan rujukan. Dengannya, santri akan terkayakan cara pandang dan pemahamannya. Meskipun berangkat dari dua kata, banyak hal yang bisa kita kaji bersama.