0Shares

Fazlur Rahman (1919-1988) adalah salah satu di antara pemikir penting muslim yang berupaya mendialogkan tradisi keilmuan Timur dan Barat. Lahir dan tumbuh dengan dididikan tradisi keilmuan Islam di benua India, memungkinkan Rahman memiliki pijakan ilmu keislaman tradisional yang mengakar.

Di masa berikutnya, Rahman juga berani berpeluh keringat belajar ilmu-ilmu humaniora modern di Universitas Oxford Inggris. Tak pelak jika Rahman tidak hanya sekedar menjadi mahasiswa teladan, tetapi juga mampu berkarir sebagai pengajar di beberapa universitas di Barat. Di antaranya ialah di Durham University Inggris dan McGill University Kanada.

Di antara sumbangan penting pemikirannya secara metodologis adalah “double movement theory”. Metode memahami Islam secara sosiologis, historis, dan hermeneutis. Metode ini diproyeksikan agar masyarakat muslim mampu memahami Islam secara baik guna menghidupkan pesan-pesan mulia agama.

Dengan cara ini, Islam akan senantiasa menjadi ruh bagi peradaban dan keadaban manusia. Secara praktis, Rahman menyadarkan kita untuk memilah dan membedakan antara Islam normatif dan Islam historis.

Islam normatif bersifat final dan ideal dalam teks-teks keagamaan. Sedangkan yang kedua (Islam historis) adalah Islam yang sudah dipahami, ditafsirkan, dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim. Dengan pemilahan ini, kita akan mafhum mengapa dalam realitanya, terdapat kesenjangan di tengah masyarakat.

Sebagai misal, Islam mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, kemajuan, dan kasih sayang. Namun nyatanya, masih banyak masyarakat muslim yang berkumbang pada kejumudan, korupsi, dan tindak kekerasan yang membabi buta.

Demikiannya halnya dalam bidang hadis, tidak sedikit teks-teks matan hadis yang mendorong umatnya untuk jujur, adil, berlomba dalam kebaikan, menebar kedamaian dan keadaban, tetapi realitanya tidak demikian adanya.

Masih terdapat kesenjangan antara hadis sebagai sunnah Nabi (yang menjadi acuan normatif dan bersifat ideal) dengan praktik kongkrit nilai-nilai sunnah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Lantas bagaimana kita mengurainya? Dan bagaimana gagasan living sunnah yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman di atas dapat dijadikan sebagai pisau analisisnya?

Sambil menyedu kopi hangat di malam minggu yang cerah ini, mari kita berbincang sejenak.