0Shares

Beberapa hari lalu, 18 Juli 2020, Madrasah Darus Sunnah (MDS) mengadakan wisuda terbatas dengan menerapkan protokol Covid-19.

Terhitung sejak 14 Juni 2014, MDS menerima santri angkatan pertama, sejumlah 22 anak. Setelah 6 tahun, MDS mewisuda 15 anak (70 persen). Selama enam tahun, MDS mendidik dan membimbing para santri dengan visi misi mengader ulama sejak usia dini.

Dengan kerangka multiple intelligences, selama 6 tahun, MDS mengader para santri dengan menyinergikan holistic curriculum, integrated curriculum, life-skill curriculum, habitual curriculum, dan humanis curriculum.

Dengan prinsip bahwa setiap santri adalah bintang. Selama 6 tahun, MDS menyelenggarakan pendidikan berbasis klasikal, asrama, dan pesantren untuk mencapai 4 target.

Pertama, santri memiliki kemampuan memahami dan menjelaskan kandungan al-Qur’an dan hadis dengan baik dan benar. Kedua, memiliki keahlian dalam bidang kitab kuning (turats ilmiah islamiyah).

Ketiga, memiliki keterampilan dalam bidang bahasa, sosial, seni budaya, sains, dan teknologi. Keempat, memiliki kecakapan dalam pengembangan diri dan bersosialisasi di masyarakat.

Sebagaimana tiga rumusan dasar pendidikan yang digariskan oleh ayahanda Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA; yakni dirasah, munadhomah, dan istijmam, maka selama 6 tahun ini, santri MDS telah purna melewati tiap jenjang yang telah dirumuskan.

Mulai dari dirasah yang memadukan kurikulum pesantren salafiyah yang memiliki kelebihan dalam penguasaan kitab kuning dan kurikulum pendidikan nasional 2013, dengan perpaduan 85 persen dan 15 persen.

Munadhomah kami wujudkan dengan wadah Ikatan Santri Darus-Sunnah (ISDAR), Lembaga Bahtsul Masail Madrasah Darus-Sunnah (LBM MDS), Lembaga Tahsin-Tahfidz Madrasah Darus-Sunnah (LTT-MDS), Lembaga Bahasa Madrasah Darus-Sunnah, apel KBM, dan Khataman al-Qur’an tiap bulan. Sedangkan kerangka istijmam, kami wujudkan dalam bentuk wisata edukasi, studi silaturahmi, ekskul, kreatifitas seni santri, dan program penguatan leadership.

Secara berjenjang, mulai tahun pertama hingga tahun keenam, santri MDS telah menyelesaikan seluruh mata pelajaran intrakurikuler di kelas, serta ditopang dengan program unggulan (ko-kurikuler), dan ekstrakurikuler.

Pembelajaran intrakurikuler secara sinergis telah dituntaskan yang terpetakan menjadi lima rumpun. Pertama, pendidikan agama berbasis al-Qur’an. Di dalamnya tercakup tajwid, ulumul qur’an, ilmu tafsir, dan tafsir al-Qur’an. Pembelajaran ini ditopang dengan kokurikuler berupa tahsin dan tahfidz di bawah LTT-MDS. Ditambah lagi dengan ekstrakurikuler al-Itqan MDS dan khataman al-Qur’an binadhor setiap bulan.

Dari 15 wisudawan, terdapat 2 santri yang selesai menghafal 30 juz, 3 santri menyelesaikan hafalan 20 juz, 5 anak hafal 10 juz, dan 5 anak hafal 5 dan 3 juz. Dalam sidang terbuka ilmu al-Qur’an dan tafsir, di antaranya mengujikan kitab Tafsir Ayatil Ahkam Rawa’il Bayan, terdapat 3 anak yang memperoleh nilai mumtaz, 7 anak dengan nilai jayid jiddan, dan 5 anak dengan nilai jayid. Ada 1 anak yang menulis buku sebagai tugas karya akhir tentang ilmu qiraat dengan predikat mumtaz.

Kedua, pendidikan agama berbasis hadis dan kitab kuning. Tercakup di dalamnya adalah pelajaran hadis, musthalah hadis, fikih, akidah ahli sunnah wal jamaah, akhlaq, siroh nabawiyah, manthiq, falak-hisab, arudl, dan tarikh Islam. Untuk menopangnya, putra-putra kita secara mandiri memilih untuk aktif di LBM MDS, bandongan kitab kuning, sorogan kitab kuning, dan tahfidz mutun di bawah LTT-MDS.

Terdapat 7 anak yang menjadi perintis hingga pembina adik kelas dalam Lembaga Bahtsul Masail. Kesemuanya telah didelegasikan mengikuti bahtsul masail antar pesantren di Jabodetabek, hingga Forum Batsul Masail Pondok Pesantren (FBM-PP) se-Jawa Madura di beberapa pesantren di Kediri Jawa Timur. Untuk pertama kalinya, di momen haul ke-III Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, putra-putra kita berhasil menjadi pelopor untuk mengadakan bahtsul masail antar pesantren Jabodetabek di Darus-Sunnah.

Terdapat 5 santri yang menghafal kitab-kitab matan dan hadis. Di antaranya adalah matan kitab Alfiyah al-Iraqi, 1000 bait dalam bidang musthalahul hadis. Matan Taqrib dalam bidang fikih. Terdapat 2 anak yang menjuarai musabaqoh membaca kitab kuning. Keduanya, meskipun masih dalam jenjang tsanawiyah, namun dapat bersaing meskipun peserta lainnya sudah jenjang aliyah. Terdapat 2 anak yang tuntas mengikuti daurah ilmiah internasional satu bulan di al-Azhar Mesir. Satu di antaranya menjadi peserta terbaik.

Semoga berkah dan manfaat. Menjadi bekal untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya.