0Shares

Sabtu Malam, 14 September 2019 di Aula Kiai Idris Kamali, Ma’had Darus-Sunnah. Puluhan santri itu berbincang dan berdiskusi. Meskipun hampir 4 jam, tak jemu jua. Menggumuli ragam literatur keilmuan ahli fikih. Berpijak dari teks kitab Fath al-Qarib karya Imam Ibnu Qasim al-Ghazzi (859-918 H), santri tingkat Aliyah itu berselancar jauh. Membuka kitab-kitab matan, syarah, dan hasyiah. Mulai dari Nihayah al-Zain, al-Qalyubi, al-Bajuri, al-Bujairimi, Mughni al-Muhtaj, Nihayah al-Muhtaj, Tuhfah al-Muhtaj, Asna al-Mathalib, al-Majmu’, dan masih banyak lagi.

Dan juga, tak jemunya masing-masing mereka menyatakan pendapat, meyanggah, mengkritisi, mendukung, menolak, dan menguatkan dalil dan argumentasi. Seakan mereka tergerak oleh adagium bahwa pendapat kita adalah benar, tapi mungkin juga mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, tapi juga mungkin terdapat titik kebenarannya. Dari ini semua, mereka seakan menjadi terkayakan. Bertukar cara pandang dan analisa. Tak pelak jika waktu sudah hampir tengah malam, tetapi mereka masih antusias mengangkat papan nama. Meminta izin moderator agar diberi kesempatan untuk bicara.

Muhammad Cyril Wafa, salah satu peserta dari kelas 6 Madrasah Darus-Sunnah menyatakan bahwa dengan ajang seperti ini, kemampuan baca santri terhadap kitab kuning semakin matang. Banyak hal yang bisa didapatkan dari ajang bahtsul masail. Yang mungkin tidak dapat ditemukan saat jam belajar di kelas. Salah satunya adalah kesempatan mendapatkan beragam referensi yang dirujuk oleh masing-masing peserta.

Hal senada juga dipesankan oleh ustadz Ulin Nuha Lc., S.S.I, selaku dewan pembina. Dalam sambutannya, ustadz alumni Mathaliul Falah Kajen Pati itu menyatakan bahwa dengan aktif mengikuti bahtsul masail, santri akan terlatih berfikir kritis dan sistematis. Mulai dari memahami permasalahan yang dibahas, mencari referensi, membangun argumentasi, hingga bertahan untuk menanggapi respon dan sanggahan dari peserta lain.