0Shares

Idhul Adha adalah momen yang mengasyikan bagi santri MDS. Di hari yang penuh keberkahan itu, seluruh santri tetap di pondok pesantren. Tidak libur pulang ke rumah. Tidak lain karena momen tahunan ini sangat baik untuk mempraktikkan materi-materi terkait ibadah di bulan Dzulhijjah.

Dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah, santri usia SMP-SMA itu mengisinya dengan puasa sembilan hari. Sambil berpuasa, mereka mengkhatamkan al-Qur’an. Puncaknya, di malam Idhul Adha, mereka melantunkan takbir bersama.

Paginya dilanjutkan dengan shalat id, tahlil di maqbarah Kiai Ali Mustafa Yaqub (1952-2016), open house di rumah khadim ma’had, memotong hewan kurban, hingga membakar sate bersama.

Tahun ini, bersama dengan kakak-kakak mahasantri Ma’had Darus-Sunnah, santri MDS memotong 12 binatang kurban. 2 ekor sapi, dan 10 ekor kambing.

Penyembelihan dilakukan di halaman Ma’had. Asatidz dan musyrif juga turut serta. Dengan saling bantu membantu, menjelang shalat Dhuhur, penyembelihan dan pemotongan daging sudah selesai. Dilanjutkan dengan masak, membagikan daging kepada warga sekitar, dan bakar sate bersama hingga sore.

Meskipun dari pagi mereka banyak memeras tenaga, namun nampaknya tidak kelihatan rasa capek. Sebaliknya, mereka ceria dan antusias.

Dalam pernyataannya, ust. Muhammad Hanifuddin selaku Waka Akademik menyatakan bahwa sedari awal, Idhul Adha sudah disetting untuk dijadikan sebagai momen pembelajaran. Dalam beberapa minggu terakhir, asatidz di kelas telah menyampaikan materi terkait Idhul adha. Begitu juga Ikatan Santri Darus-Sunnah (ISDAR) telah membentuk panitia kurban.

Oleh karena itu, santri tidak diliburkan dan tidak diizinkan pulang ke rumah. Tidak lain supaya dapat mengikuti secara maksimal praktik ibadah-ibadah di Hari Raya Idhul Adha.

Selain itu, momen ini juga sangat penting untuk dijadikan sebagai wahana pembentukkan karakter santri. Mulai dari rasa tanggung jawab, kerja sama, saling membantu, ikhlas berkorban, hingga peduli pada warga sekitar pondok pesantren.

Dengan pembelajaran ini semua, semoga santri-santri MDS dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang berkualitas. Mengejawantahkan visi misi MDS, mengader ulama sejak usia dini.