0Shares

Serial kajian ini difokuskan untuk merespon disertasi Dr. Abdul Aziz, M.Ag. yang berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital” (2019). Penelitian program doktoral UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bermaksud untuk menemukan teori baru yang dapat dijadikan sebagai justifikasi keabsahan hubungan seksualitas non marital.

Setidaknya ada lima temuan yang diajukan oleh disertasi setebal 421 halaman ini. Di antaranya ialah milk al-yamin dapat mengabsahkan beberapa hubungan seksualitas non marital. Di dalamnya tercakup 9 macam hubungan yang bisa diabsahkan. Salah satunya adalah nikah al-hibah dan nikah al-mut’ah. Di sisi lain, konsep milk al-yamin juga tidak bisa untuk mengabsahkan beberapa hubungan seksualitas tertentu. Ada 6 limitasi hubungan seksualitas yang tercakup di dalamnya. Di antaranya ialah zina dan nikah al-maharim.

Temuan di atas dikaji dengan menggunakan pendekatan hermeneutika hukum. Bentuk penelitiannya adalah kepustakaan. Kesimpulan akhir yang diajukan adalah bahwa konsep milk al-yamin Muhammad Syahrur dapat dijadikan sebagai justifikasi keabsahan beberapa hubungan seksualitas non marital. Tetapi tidak sepenuhnya mutlak dapat diterapkan. Terdapat limitasi di dalamnya. Meski demikian, kesimpulan ini dapat dijadikan titik pijak untuk melakukan pembaruan hukum perdata dan pidana Islam.

Selain itu, yang nampak kurang dari disertasi ini ialah minimnya tilikan terhadap praktik konsep milk al-yamin di era Nabi. Di lihat dari lampiran teks hadis, hanya ada 2 matan hadis tentang nikah mut’ah. Tidak disertakan hadis-hadis yang spesifik membicarakan milk al-yamin. Dr. Abdul Aziz, M.Ag., sebagaimana tokoh yang dikajinya, Muhammad Syahrur terlalu asyik menggunakan pendekatan bahasa (fiqih al-lughah) untuk memahami, menafsir, dan mengembangkan konsep milk al-yamin. Di titik inilah, nampak menggaga kelemahan epistemik perumusan hukum.

Lantas seperti apa detailnya? Hal apa yang dapat kita tindak lanjuti dari disertasi dosen IAIN Surakarta dan Khatib Syuriah NU Sukoharjo (2003) itu?

Sambil menyedu kopi hangat di malam Minggu, mari kita berbincang sejenak.